Cara Ternak Ayam Petelur: Dari Kandang Bau Amis Sampai Panen Telur Tiap Hari
Saya masih ingat betul waktu pertama kali mencoba ternak ayam petelur. Teorinya terlihat simpel. Beli DOC, kasih pakan, tunggu, lalu telur datang seperti rezeki rutin tiap pagi. Nyatanya? Tidak semanis itu. Bau kandang menyengat, ayam stres, produksi seret. Saya sempat mikir, “Ini salah ayamnya atau saya yang sok tau?”
Artikel ini bukan teori textbook. Ini cerita pengalaman pribadi saya membangun usaha ayam petelur dari skala kecil, gagal, belajar, lalu pelan-pelan stabil. Saya akan bahas detail, teknis, angka-angka, dan kesalahan yang bikin saya rugi jutaan. Supaya kamu nggak perlu bayar mahal untuk belajar dari kesalahan yang sama.
Mengenal Ayam Kampung
Ayam kampung adalah ayam lokal Indonesia yang telah lama dibudidayakan secara tradisional. Ayam ini memiliki pertumbuhan lebih lambat dibanding ayam ras, namun memiliki keunggulan:
- Daya tahan tubuh lebih kuat
- Biaya pakan bisa lebih hemat (bisa memanfaatkan bahan alami)
- Harga jual lebih tinggi
- Permintaan stabil sepanjang tahun
Ayam kampung dapat dibudidayakan untuk dua tujuan utama:
- Produksi daging (pedaging)
- Produksi telur (petelur)
Saya mulai dari 100 ekor. Modal waktu itu sekitar 15–20 juta rupiah, termasuk kandang, tempat pakan, tempat minum, dan pembelian pullet siap produksi. Saya sengaja tidak mulai terlalu besar karena pengalaman saya nol.
Kesalahan pertama saya adalah meremehkan biaya pakan. Saya pikir harga pakan stabil. Ternyata naik turun seperti mood orang kurang tidur. Biaya pakan bisa mencapai 70% dari total biaya produksi. Jadi kalau salah hitung, bisa tekor diam-diam.
Estimasi Awal 100 Ekor Ayam Petelur
- Pullet umur 16–18 minggu: ± Rp 90.000–110.000/ekor
- Kandang baterai sederhana: Rp 6–8 juta
- Pakan 1 bulan awal: ± Rp 3–4 juta
- Vitamin & vaksin: Rp 300–500 ribu
Pelajaran penting: jangan mulai tanpa cadangan pakan minimal 1 bulan. Ayam tidak bisa di-PHK kalau cashflow lagi seret.
2. Sistem Kandang yang Saya Gunakan
Saya pakai sistem kandang baterai karena lebih efisien dan mudah kontrol produksi. Setiap kotak diisi 1–2 ekor. Kotoran jatuh ke bawah, telur menggelinding ke depan. Simpel tapi efektif.
Kandang harus punya ventilasi baik. Suhu ideal ayam petelur di kisaran 25–30°C. Kalau terlalu panas, produksi turun. Pernah suhu naik sampai 34°C dan produksi anjlok hampir 15%. Sehari rugi bisa ratusan ribu.
Jarak kandang dari pemukiman juga penting. Bau dan lalat bisa jadi masalah sosial. Saya belajar ini setelah ditegur tetangga karena lalat menyerbu dapurnya. Sejak itu, manajemen limbah diperbaiki.
Manajemen Pakan: Ini Penentu Untung Rugi
Ayam petelur butuh pakan dengan protein 16–18% saat produksi. Kalsium juga tinggi, sekitar 3,5–4%, supaya cangkang kuat. Saya pernah coba pakan murah dengan protein rendah. Hasilnya? Telur kecil dan cangkang tipis.
Konsumsi pakan rata-rata 110–120 gram per ekor per hari. Jadi untuk 100 ekor, butuh sekitar 11–12 kg per hari. Jangan overfeeding karena pakan terbuang dan ayam bisa kegemukan.
Saya pernah terlalu pelit pakan. Produksi turun drastis dalam seminggu. Ayam bukan mesin. Dia butuh nutrisi konsisten.
Vaksin dan Penyakit yang Pernah Saya Hadapi
Penyakit seperti ND (Newcastle Disease) dan AI (Avian Influenza) itu nyata dan berbahaya. Sekali masuk kandang, bisa habis satu populasi. Saya pernah kehilangan 12 ekor dalam 3 hari karena telat vaksin booster.
Program vaksin wajib dilakukan sesuai jadwal. Jangan nunggu ayam sakit baru panik. Pencegahan jauh lebih murah daripada pengobatan.
Masa Produksi dan Puncak Telur
Ayam mulai bertelur di umur 18 minggu, tapi puncak produksi biasanya umur 28–32 minggu. Produksi bisa 90–95%. Kalau manajemen bagus, angka ini bisa dipertahankan beberapa bulan.
Saya pernah bangga karena produksi tembus 92%. Rasanya seperti naik level. Tapi saya lengah menjaga kualitas pakan. Dalam sebulan turun ke 80%. Stabilitas itu hasil disiplin, bukan keberuntungan.
6. Analisa Sederhana Keuntungan
Misal 100 ekor produksi 85 butir per hari. Harga telur Rp 25.000/kg (isi 16 butir rata-rata). Per hari sekitar 5,3 kg. Pendapatan kotor sekitar Rp 132.500 per hari.
Dikurangi pakan dan biaya operasional, keuntungan bersih bisa Rp 30.000–50.000 per hari. Tidak besar, tapi stabil. Dalam skala 1000 ekor, angka itu jadi signifikan.
Kesalahan Terbesar Saya
Saya pernah tergoda memperbesar populasi tanpa menambah kapasitas kandang. Overcrowding bikin ayam stres. Produksi turun dan kanibalisme muncul. Ayam bisa saling patuk sampai luka. Itu bukan teori, saya lihat sendiri.
Sejak itu saya sadar, ekspansi harus dihitung matang. Jangan karena semangat, logika ditinggal.
Tips Praktis yang Benar-Benar Membantu
- Catat produksi harian. Jangan mengandalkan ingatan.
- Bersihkan tempat minum setiap hari.
- Berikan cahaya tambahan agar total pencahayaan 16 jam per hari.
- Jual telur rutin ke pelanggan tetap agar harga stabil.
Pencatatan produksi itu membosankan. Tapi dari situ saya tahu kapan ayam drop, kapan naik. Data kecil sering kali menyelamatkan usaha.
Strategi Pemasaran Telur
Saya tidak langsung jual ke tengkulak. Margin terlalu tipis. Saya coba tawarkan ke warung, toko sembako, dan ibu rumah tangga sekitar. Sedikit repot, tapi harga lebih bagus.
Sekarang bahkan pemasaran bisa lewat marketplace lokal dan grup WhatsApp. Branding sederhana seperti “Telur Segar Harian” ternyata cukup menarik.
Penutup: Ternak Ayam Itu Soal Disiplin, Bukan Sekadar Semangat
Cara ternak ayam petelur bukan cuma soal kasih makan dan panen. Ini tentang konsistensi, pencatatan, pengamatan, dan mau belajar dari kesalahan. Saya sudah jatuh bangun di sini.
Kalau kamu mau mulai, mulai kecil dulu. Rasakan ritmenya. Pelajari karakternya. Ayam petelur itu seperti bisnis berbasis biologi—dia hidup, bernapas, dan bisa stres.
Dan percaya deh, pagi hari saat kamu ambil telur hangat dari kandang, ada rasa puas yang susah dijelaskan. Bau kandang tetap ada, tapi rasanya seperti aroma kerja keras yang terbayar.
Internal Backlink:
DIY Probiotik untuk Unggas
Eksternal Backlink Referensi:
FAO - Poultry Production Guide
0 Comments:
Posting Komentar