Senin, 24 Agustus 2020

SALMONELLA PARATIFOID PENYEBAB PENYAKIT BERAK KAPUR ( PULLORUM DESEASE )

Penyakit Pullorum pada Puyuh : Penyebab, Gejala, Penularan, Diagnosis, dan Pencegahan

Penyakit Pullorum pada puyuh merupakan infeksi bakteri yang perlu diperhatikan terutama dalam pengelolaan bibit, telur tetas, dan biosekuriti peternakan. Penyakit ini disebabkan oleh Salmonella enterica serovar Gallinarum biovar Pullorum, yang sering disebut Salmonella Pullorum atau S. Pullorum.

Pullorum lebih dikenal sebagai penyakit berat pada unggas muda, tetapi burung yang mampu bertahan hidup dapat menjadi pembawa atau carrier tanpa menunjukkan tanda yang jelas. Kondisi tersebut penting karena bakteri dapat dipertahankan dalam populasi dan ditularkan kembali, termasuk melalui telur dari induk yang terinfeksi.

Pada peternakan puyuh, gejala seperti lemah, berkumpul di dekat sumber panas, tidak mau makan, diare putih, atau kotoran yang menempel di sekitar kloaka memang dapat menjadi tanda yang patut dicurigai. Namun, gejala saja tidak cukup untuk memastikan Pullorum. Konfirmasi memerlukan pemeriksaan veteriner dan laboratorium.

Apa Itu Penyakit Pullorum?

Pullorum adalah penyakit bakterial pada unggas yang disebabkan oleh Salmonella enterica serovar Gallinarum biovar Pullorum (S. Pullorum). Bakteri ini berbeda dari kelompok Salmonella paratifoid yang umumnya dibahas sebagai kelompok Salmonella motil.

Dalam literatur veteriner, Pullorum secara klasik dikenal sebagai penyakit yang dapat menyebabkan mortalitas tinggi pada unggas muda. Organisme ini memiliki kemampuan beradaptasi dengan inang unggas dan dapat bertahan dalam populasi melalui burung pembawa.

Menurut Merck Veterinary Manual, Pullorum terutama menjadi masalah serius pada unggas muda, sedangkan burung yang bertahan hidup dapat menjadi carrier subklinis. WOAH juga menjelaskan bahwa penularan melalui ovarium atau telur merupakan salah satu jalur penting penyebaran penyakit.

Penyebab Pullorum pada Puyuh

Penyebab penyakit Pullorum adalah Salmonella enterica serovar Gallinarum biovar Pullorum. Bakteri ini termasuk bakteri Gram-negatif dan memiliki sifat adaptasi yang kuat terhadap unggas.

Dalam konteks peternakan puyuh, penting untuk tidak menyimpulkan bahwa setiap kasus diare putih atau kematian anak puyuh pasti disebabkan oleh Pullorum. Banyak penyakit lain dapat menghasilkan tanda klinis yang mirip. Karena itu, istilah seperti “berak kapur” sebaiknya digunakan sebagai istilah gejala atau nama yang dikenal peternak, bukan sebagai bukti diagnosis.

Apakah Puyuh Bisa Terkena Pullorum?

Ya. Pullorum terutama dikenal sebagai penyakit unggas, dan S. Pullorum juga telah dilaporkan pada berbagai jenis burung termasuk puyuh. Namun, karakter penyakit dapat berbeda menurut spesies, umur, kondisi flock, strain bakteri, dan jalur penularannya.

Untuk peternak puyuh, perhatian terbesar sebaiknya diarahkan pada sumber bibit, telur tetas, kebersihan hatchery atau tempat penetasan, pemisahan flock, serta pencegahan masuknya agen infeksi dari unggas atau lingkungan yang terkontaminasi.

Gejala Pullorum pada Puyuh

Gejala klinis Pullorum paling mudah terlihat pada unggas muda. Beberapa tanda yang dapat ditemukan antara lain:

  • lemah dan kurang aktif;
  • nafsu makan menurun;
  • berkumpul atau mendekat ke sumber panas;
  • pertumbuhan tidak optimal;
  • diare atau kotoran berwarna keputihan;
  • kotoran menempel di sekitar kloaka;
  • dehidrasi;
  • kematian yang meningkat pada kelompok muda.

Merck Veterinary Manual mencatat bahwa unggas muda yang terkena Pullorum dapat menunjukkan kelemahan, anoreksia, berkumpul di dekat sumber panas, dan kotoran putih yang menempel pada area kloaka.

Namun, tanda-tanda tersebut bukan tanda yang hanya dimiliki Pullorum. Oleh sebab itu, jangan menjadikan warna kotoran sebagai satu-satunya dasar untuk menentukan penyakit.

Bagaimana Jika Puyuh Dewasa Tidak Menunjukkan Gejala?

Burung yang bertahan hidup dari infeksi dapat menjadi carrier dan tidak selalu menunjukkan gejala yang jelas. Inilah salah satu alasan mengapa pengendalian Pullorum tidak cukup hanya dengan melihat apakah burung tampak sehat.

Dalam kelompok indukan, status kesehatan menjadi sangat penting karena carrier dapat berhubungan dengan penularan melalui telur.

Bagaimana Pullorum Menular?

Pullorum dapat menyebar melalui penularan vertikal maupun horizontal. Jalur vertikal sangat penting karena bakteri dapat berpindah dari induk yang terinfeksi ke telur dan kemudian menginfeksi anak yang menetas.

1. Penularan melalui Telur

Penularan melalui telur atau transmisi transovarian merupakan salah satu karakter penting penyakit Pullorum. Burung betina yang menjadi carrier dapat mempertahankan bakteri pada jaringan reproduksinya dan berpotensi menghasilkan telur yang terinfeksi.

Secara sederhana, rantainya dapat dipahami sebagai berikut:

Induk terinfeksi → telur terkontaminasi/terinfeksi → anak menetas → infeksi dalam kelompok muda.

Inilah alasan mengapa pengadaan indukan dan telur tetas dari sumber yang memiliki pengendalian kesehatan yang baik sangat penting.

2. Penularan Horizontal

Penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung maupun tidak langsung. Bahan yang tercemar seperti kotoran, litter, pakan, air, peralatan, kandang, atau manusia yang berpindah dari satu kelompok ke kelompok lain tanpa prosedur kebersihan yang memadai dapat berperan dalam penyebaran.

Rodensia, burung liar, serangga, dan faktor lingkungan lainnya juga perlu diperhatikan sebagai bagian dari program biosekuriti.

Mengapa Carrier Pullorum Menjadi Masalah?

Masalah terbesar Pullorum bukan hanya kematian pada unggas muda. Burung yang bertahan dapat menjadi carrier dan tampak sehat secara klinis.

Carrier dapat mempertahankan bakteri dalam populasi. Pada indukan, kondisi ini menjadi semakin penting karena infeksi pada sistem reproduksi dapat berhubungan dengan penularan kepada keturunan melalui telur.

Karena itu, flock yang tampak sehat belum tentu bebas dari masalah Pullorum. Pemeriksaan dan pengendalian sumber bibit memiliki peran penting dalam mencegah penyakit terus berputar di dalam populasi.

Cara Diagnosis Pullorum

Diagnosis Pullorum tidak sebaiknya dilakukan hanya berdasarkan gejala. Tanda seperti diare putih, kelemahan, atau kematian pada puyuh muda dapat ditemukan pada beberapa kondisi penyakit lainnya.

Diagnosis definitif memerlukan pemeriksaan laboratorium. Menurut Merck Veterinary Manual, konfirmasi dilakukan melalui isolasi dan identifikasi organisme penyebab. Pemeriksaan serologis dapat digunakan sebagai alat surveilans, tetapi hasilnya memiliki keterbatasan sehingga tidak boleh dianggap sebagai satu-satunya bukti dalam semua keadaan.

Alur yang lebih aman bagi peternak adalah:

  1. mengamati perubahan kondisi flock;
  2. mencatat gejala dan mortalitas;
  3. memisahkan atau mengendalikan pergerakan kelompok sesuai arahan tenaga kesehatan hewan;
  4. menghubungi dokter hewan atau fasilitas laboratorium veteriner;
  5. melakukan pemeriksaan yang diperlukan;
  6. menentukan tindakan pengendalian berdasarkan hasil pemeriksaan.

Dengan pendekatan ini, peternak tidak mengambil keputusan besar hanya berdasarkan warna kotoran atau satu gejala klinis.

Apakah Pullorum Bisa Diobati?

Pengobatan flock bukan strategi pengendalian yang direkomendasikan untuk Pullorum. Salah satu alasannya adalah terapi tidak menyelesaikan masalah carrier dan dapat mempertahankan sumber infeksi dalam populasi.

Merck Veterinary Manual menjelaskan bahwa tujuan pengendalian Pullorum adalah menghilangkan patogen dari populasi, terutama dari flock pembibitan. Karena itu, penggunaan antibiotik secara sembarangan bukan solusi yang tepat untuk mengendalikan masalah Pullorum pada flock.

Jangan memberikan antibiotik berdasarkan diagnosis sendiri. Jika terdapat dugaan Pullorum, keputusan terapi dan pengendalian sebaiknya dilakukan bersama dokter hewan berdasarkan kondisi flock dan hasil pemeriksaan.

Cara Mencegah Pullorum di Peternakan Puyuh

Pencegahan harus dimulai dari sumber unggas dan dilanjutkan melalui manajemen flock serta biosekuriti harian.

1. Pilih Sumber Bibit dengan Status Kesehatan yang Jelas

Jangan hanya mempertimbangkan harga bibit. Sumber unggas atau telur tetas yang memiliki program kesehatan dan pencatatan yang baik dapat membantu mengurangi risiko masuknya penyakit ke peternakan.

2. Perhatikan Telur Tetas dan Indukan

Karena penularan vertikal merupakan bagian penting dari epidemiologi Pullorum, kesehatan indukan menjadi perhatian utama. Pengelolaan telur tetas, kebersihan tempat penetasan, dan pemisahan kelompok perlu dilakukan secara konsisten.

3. Pisahkan Flock Baru

Jangan langsung mencampurkan puyuh yang baru datang dengan kelompok lama. Gunakan prosedur penerimaan dan pemisahan yang sesuai dengan program kesehatan peternakan.

4. Perbaiki Biosekuriti

Biosekuriti perlu mencakup kebersihan kandang, peralatan, tempat pakan, tempat minum, pengelolaan litter, kontrol akses manusia, serta pencegahan perpindahan kontaminasi dari satu flock ke flock lainnya.

Untuk pembahasan yang lebih lengkap mengenai prinsip pencegahan penyakit melalui biosekuriti, baca panduan biosekuriti peternakan.

5. Kendalikan Tikus dan Hewan Pengganggu

Rodensia dan hewan pengganggu dapat berperan dalam perpindahan agen infeksi di lingkungan peternakan. Karena itu, pengendalian tikus, perlindungan pakan, kebersihan gudang, dan pengelolaan lingkungan sekitar kandang merupakan bagian dari biosekuriti.

6. Hindari Perpindahan Peralatan Tanpa Sanitasi

Peralatan yang digunakan pada flock berbeda dapat menjadi jalur perpindahan kontaminasi. Jika peralatan harus digunakan bersama, prosedur pembersihan dan disinfeksi harus dilakukan sesuai program sanitasi peternakan.

Apa yang Dilakukan Jika Dicurigai Pullorum?

Jika terjadi peningkatan kematian, diare putih pada banyak unggas muda, pertumbuhan buruk, atau pola penyakit yang mencurigakan, jangan langsung menyimpulkan bahwa penyebabnya adalah Pullorum.

Langkah awal yang lebih tepat adalah:

  • catat jumlah unggas sakit dan mati;
  • pisahkan kelompok yang dicurigai sesuai prosedur manajemen penyakit;
  • hindari memindahkan unggas, telur, peralatan, atau bahan dari kelompok tersebut ke kelompok lain;
  • perketat kebersihan dan biosekuriti;
  • hubungi dokter hewan atau tenaga kesehatan hewan;
  • lakukan pemeriksaan laboratorium bila diperlukan;
  • ikuti rekomendasi pengendalian berdasarkan hasil pemeriksaan.

Jika penyakit menular dicurigai menyebar dalam flock, jangan menunggu sampai mortalitas semakin tinggi sebelum mencari bantuan profesional.

Hubungan Pullorum dengan Kesehatan Peternakan Puyuh

Pullorum sebaiknya tidak dipandang sebagai masalah yang berdiri sendiri. Pengendaliannya berkaitan dengan kualitas bibit, kesehatan indukan, telur tetas, kebersihan hatchery, manajemen flock, dan biosekuriti.

Untuk memahami penyakit lain yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan puyuh, Anda dapat membaca panduan penyakit puyuh yang perlu diwaspadai.

Jika Anda sedang membangun sistem budidaya secara menyeluruh, artikel ini juga dapat dibaca bersama Panduan Lengkap Budidaya Burung Puyuh.

FAQ Penyakit Pullorum pada Puyuh

Apakah penyakit Pullorum bisa menyerang puyuh?

Ya. S. Pullorum merupakan patogen unggas dan telah dilaporkan pada beberapa jenis burung termasuk puyuh. Tingkat keparahan penyakit dapat berbeda menurut umur, kondisi flock, dan faktor epidemiologis lainnya.

Apakah kotoran putih berarti puyuh pasti terkena Pullorum?

Tidak. Kotoran putih atau kotoran yang menempel di sekitar kloaka dapat menjadi tanda yang perlu dicurigai, tetapi tidak cukup untuk memastikan diagnosis Pullorum. Konfirmasi memerlukan pemeriksaan yang sesuai.

Bagaimana Pullorum dapat menular?

Pullorum dapat menular secara vertikal melalui telur dan secara horizontal melalui kontak dengan unggas terinfeksi atau lingkungan dan bahan yang terkontaminasi.

Apakah puyuh yang sudah sembuh dapat menjadi carrier?

Ya. Unggas yang bertahan dari infeksi dapat menjadi carrier subklinis. Pada indukan, carrier menjadi perhatian karena bakteri dapat berkaitan dengan penularan melalui telur.

Apakah Pullorum bisa diobati dengan antibiotik?

Pengobatan flock tidak direkomendasikan sebagai strategi pengendalian Pullorum karena tidak menghilangkan masalah carrier. Jangan menggunakan antibiotik secara sembarangan. Penanganan sebaiknya ditentukan berdasarkan pemeriksaan dan arahan dokter hewan.

Bagaimana memastikan puyuh terkena Pullorum?

Gejala klinis hanya dapat menjadi dasar kecurigaan. Diagnosis definitif memerlukan pemeriksaan laboratorium, termasuk isolasi dan identifikasi organisme penyebab.

Bagaimana cara mencegah Pullorum?

Pencegahan mencakup pemilihan sumber bibit yang sehat, pengendalian kesehatan indukan dan telur tetas, pemisahan flock, sanitasi, kontrol akses, pengendalian rodensia dan hewan pengganggu, serta penerapan biosekuriti yang konsisten.

Kesimpulan

Penyakit Pullorum pada puyuh perlu diperhatikan terutama karena penularan melalui telur dan kemungkinan munculnya carrier yang tidak menunjukkan gejala jelas. Tanda seperti lemah, berkumpul dekat sumber panas, diare putih, dan kotoran yang menempel pada kloaka dapat menjadi petunjuk, tetapi tidak cukup untuk memastikan penyakit.

Fokus pengendalian sebaiknya bukan sekadar mencari obat setelah unggas sakit. Pencegahan melalui sumber bibit yang baik, pengelolaan indukan, pengawasan telur tetas, biosekuriti, dan pemeriksaan kesehatan flock jauh lebih penting untuk memutus rantai penularan.

Jika terdapat kematian tinggi atau pola penyakit yang tidak biasa, lakukan pemeriksaan veteriner dan laboratorium sebelum menetapkan diagnosis maupun tindakan pengobatan.

0 Comments:

Posting Komentar